Melukat Pembersihan ring Pura Telaga Waja Tegallalang, area terbaik tanpa busana

13600090_1004588979640365_928856190267474804_n

Pura Telaga Waja terletak di Banjar Kapitu, Desa Kendran, Kecamatan Tegalalang, Kabupaten Gianyar.

Untuk menuju lokasi pura bisa dicapai melalui dua jalan.

Kalau dari Ubud, anda cari dulu perempatan yang ada patung arjuna di Peliatan. Pura Telaga Waja terletak sekitar 4 km di utara dari titik ini. Dari patung arjuna tersebut masuklah ke Jalan Andong di Ubud. Darisana terus ke utara melewati Petulu dan carilah gedung balai banjar dari Banjar Gentong. Dari gedung balai banjar tersebut, terus ke utara sekitar 50 meter. Ada pertigaan dan ambil belok kanan atau ke timur, yang ada plang penujuk arah ke Pura Griya Sakti Manuaba. Dari pertigaan tersebut sudah dekat, sekitar 1 km lagi. Kalau dari arah Ubud, maka Banjar Kapitu menjadi banjar pertama saat melintasi Desa Kendran.

Kalau dari Tampaksiring, anda cari dari dulu perempatan Tampaksiring [yang kalau ke timur ke Pura Tirta Empul, ke utara ke Istana Tampaksiring, ke selatan ke Bedulu-Gianyar dan ke barat ke Tegalalang]. Anda ambil jalan ke Tegalalang itu. Terus saja sampai mentok pertigaan. Kalau belok kanan [ke utara] itu ke Desa Sebatu dan kalau belok kiri [ke selatan] itu ke Desa Kendran. Kita ambil jalan yang ke arah Desa Kendran. Kalau dari arah Tampaksiring, maka Banjar Kapitu menjadi banjar terakhir saat melintasi Desa Kendran.

Parkir kendaraan anda di dekat gedung balai banjar dari Banjar Kapitu. Dari sana perjalanan kita lanjutkan dengan berjalan kaki sekitar 250 meter melewati perkampungan, sawah, tegalan, jembatan kecil dan hutan desa. Kita akan melewati ratusan anak tangga menurun. Sehingga memerlukan sedikit stamina ekstra disini, terutama disaat nanti balik pulang. Tapi dengan niat tulus dan tujuan baik, maka kita akan dapat melewatinya tanpa keluhan dan halangan.

13659071_1004588896307040_3154165937766302050_n

Dalam perjalanan spiritual ini, dilakukan bersama dengan Putu Nuniek Hutnaleontina.

13697024_1004588809640382_8487574579384620601_n

Iseng kami berencana melukat di Pura Telaga Waja yang sangat sakral.

13697150_1004589139640349_8401251195176004833_n

Bagi sahabat yang ingin melukat disini, tidak diperbolehkan menggunakan kain sehelaipun, jadi harus telanjang bulat.

13707571_1004589006307029_5902368258434111150_n

Diyakini secara mistis, melukat di Pura Telaga Waja bisa mengharmoniskan hubungan suami istri.

13707688_1004588582973738_529288014871399815_n

Suasana di kawasan magic ini sangat asri dan mendamaikan jiwa.

13707802_1004588712973725_4107434331713015145_n

Bagi sahabat yang ingin melukat di Pura Telaga Waja, bisa menyiapkan canang ataupun sebuah pejati untuk dihaturkan di pelinggih nya.

13709767_1004589092973687_2280187556967837179_n

Begitu memasuki area utama maka akan sangat terasa suasana dan aura mistisnya, sungguh menggugah rasa dan menentramkan jiwa.

13709936_1004588639640399_6661691529941943372_n13718528_1004589056307024_1280573728982033896_n13718681_1004589259640337_1202191430084108508_n13718765_1008884999210763_1139109965759871436_n

Demikianlah sekilas mengenai perjalanan kencan spiritual di Pura Telaga Waja.

13718775_1004588532973743_234606032797135926_n

Sang bebek pun turut mengantar pamitnya kami dari area yang sangat mengagumkan ini.

13728928_1004588956307034_1372568349990160582_n

Terima kasih buat para sahabat sudah bersedia sekedar berkunjung.

13731734_1004588766307053_6560917918305172189_n

Bila sedang pelesiran / liburan di Bali, sangat dianjurkan untuk sekedar mencoba menelusuri kawasa suci Pura Telaga Waja.

13754143_1004588862973710_6321169824096544314_n

Penduduk disini ramah-ramah lho, kami bahkan diberikan canang gratis untuk persembahyangan (lupa membawa canang).

13754340_1004588916307038_1203954348060996707_n13769511_1004589172973679_4214906190704252764_n

Sebaiknya para sahabat menyiapkan canang dari rumah / Denpasar, karena diseputaran areal Pura belum ditemukan penjual canang.

13781785_1004589212973675_8335459241226056590_n

Sekali lagi terima kasih banyak dan sampai jumpa lagi di lain waktu sobats. Untuk mengetahui Pura Telaga Waja secara lebih dalam, para sahabat bisa berselancar di situs Pura Telaga Waja.

Advertisements

Maturan ring Pura Luhur Goa Lawah Klungkung

1

Dari ribuan jumlah pura di Bali, beberapa di antaranya berstatus Pura Khayangan Jagat. Salah satunya Pura Goa Lawah. Pura ini berdiri di wilayah pertemuan antara pantai dan perbukitan dengan sebuah goa yang dihuni beribu-ribu kelelawar. Lontar Padma Bhuwana menyebutkan Pura Goa Lawah merupakan salah satu kayangan jagat/sad kahyangan sebagai sthana Dewa Maheswara dan Sanghyang Basukih, dengan fungsi sebagai pusat nyegara-gunung. Bagaimana sejarah pura yang menempati posisi di bagian tenggara itu?

Pura Goa Lawah merupakan suatu kawasan yang suci dan indah. Di situ ada perpaduan antara laut dan gunung (lingga-yoni). Seperti namanya, di pura ini terdapat goa yang dihuni ribuan kelelawar. Gemuruh riuh suara kelelawar tiada henti, pagi, siang apalagi malam. Sekejap puluhan, ratusan bahkan ribuan ekor terbang. Sebentar lagi datang, bergantungan, bergelayutan, berdesak-desakkan di dinding-dinding karang goa. Terdengar begitu riuh bagaikan nyanyian alam yang abadi sepanjang masa. Belum lagi munculnya ular duwe (konon milik dewa), lelawah (kelelawar) putih, kuning dan brumbun, menambah suasana makin mistik di Pura yang berada di Desa Pesinggahan, Dawan, Klungkung itu.

Sementara di mulut goa terdapat beberapa palinggih stana para Dewa. Di pelatarannya, juga berdiri kokoh beberapa meru dan sthana lainnya.

 

23

Lokasinya sekitar 20 kilometer di sebelah timur kota Semarapura, Klungkung atau kurang lebih 59 kilometer dari kota Denpasar. Umat Hindu silih berganti menghaturkan bhakti dengan berbagai tujuan. Terutama ketika berlangsung piodalan/pujawali yang dilaksanakan setiap enam bulan sekali (210 hari) yakni pada Anggara Kasih Medangsia. Upacara nyejer selam 3 hari dengan penanggung jawab, pengempon pura yakni Krama Desa Pakraman Pesinggahan.

Di samping juga dilaksanakan aci penyabran yang dilakukan secara rutin pada hari-hari suci seperti Purnama, Tilem, Kajeng Kliwon, Pagerwesi, Saraswati, Siwaratri dan lainnya.

Begitu juga dengan umat Hindu dari seluruh pelosok Bali, setiap harinya ada saja yang menggelar upacara meajar-ajar atau nyegara-gunung.

 

45

Siapa yang membangun Pura Goa Lawah dan kapan dibangun?

Sulit mengungkap dan membuka secara gamblang misteri itu. Di samping karena usia bangunan pemujaan tersebut sudah tua, juga jarang ada narasumber yang benar-benar mengetahui seluk beluk keberadaannya.

Memang, ada beberapa lontar yang selintas menulis keberadaan Pura Goa Lawah. Tetapi, sangat jarang yang berani membuka secara jelas dan gamblang, siapa dan kapan salah satu pura Sad Kahyangan itu dibangun.

Jika dirunut dari kata goa lawah, secara harfiah sedikit tidaknya dapat dijelaskan bahwa goa berarti goa (lobang) dan lawah berarti kelelawar. Jadi goa lawah bisa diartikan goa kelelawar. Dalam beberapa lontar, sekilas ada yang menyimpulkan secara garis besarnya bahwa pura-pura besar yang berstatus Kahyangan jagat dan Sad Kahyangan di Bali dibangun oleh pendeta terkenal, Mpu Kuturan.

Hal itu terbukti dengan disebutnya Pura Goa Lawah dalam lontar Mpu Kuturan. Sebagaimana dihimpun Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Klungkung yang saat ini tengah mempersiapkan penerbitan buku tentang ”Pura Goa Lawah.” Dalam rekapan buku yang rencananya dipasupati bersamaan dengan pujawali di Pura Goa Lawah, 23 Mei mendatang, diceritakan, Mpu Kuturan datang ke Bali abad X yakni saat pemerintahan dipimpin Anak Bungsu adik Raja Airlangga. Airlangga sendiri memerintah di Jawa Timur (1019-1042). Ketika tiba, Mpu Kuturan menemui banyak sekte di Bali. Melihat kenyataan itu, Mpu Kuturan kemudian mengembangkan konsep Tri Murti dengan tujuan mempersatukan semua sekte tersebut.

Kedatangan Mpu Kuturan membawa perubahan yang sangat besar di wilayah ini, terutama mengajarkan masyarakat Bali tentang cara membuat pemujaan terhadap Hyang Widhi yang dikenal dengan sebutan kahyangan atau parahyangan.

Mpu Kuturan pula yang mengajarkan pembuatan Kahyangan Tiga di setiap desa pakraman di Bali serta mengukuhkan keberadaan Kahyangan Jagat yang salah satunya adalah Goa Lawah. Sebagaimana tertulis dalam lontar Usana Dewa, Mpu Kuturan juga tercatat sebagai perancang bangunan pelinggih di Pura-Pura seperti gedong dan meru serta arsitektur Bali. Begitu juga dengan berbagai jenis upacara-upakara dan pedagingan pelinggih. Hal itu termuat dalam lontar Dewa Tatwa. Mpu Kuturan telah membuat landasan prikehidupan yang sangat prinsip seperti aturan-aturan ketertiban hidup bermasyarakat yang diwarisi sampai saat ini dalam bentuk Desa Pakraman.

 

67

Di samping nama Mpu Kuturan, patut juga dicatat perjalanan Danghyang Dwijendra atau Danghyang Nirartha yang dikenal juga dengan gelar Pedanda Sakti Wawu Rawuh. Maha pandita ini berada di Bali saat Bali dipimpin Raja Dalem Waturenggong (1460-1550 Masehi), seorang raja yang sangat jaya pada masanya dan membawa kejayaan Nusa Bali. Danghyang Nirartha merupakan seorang pendeta yang melakukan tirthayatra ke seluruh pelosok Pulau Bali, termasuk juga ke pulau Lombok dan Sumbawa.

Kaitannya dengan Pura Goa Lawah. Lontar Dwijendra Tatwa menyebutkan perjalanan Danghyang Nirartha diawali dari Gelgel menuju Kusamba. Tetapi, di Kusamba Danghyang Nirartha tidak berhenti. Perjalanannya berlanjut hingga ke Goa Lawah. Saat itulah, Danghyang Nirartha bisa melihat gunung yang indah. Perjalanan dihentikan. Sang pendeta masuk ke tengah Goa. Melihat-lihat goa kelelawar yang jumlahnya ribuan. Di puncak gunung goa itu bunga-bunga bersinar, jatuh berserakan tertiup angin semilir, bagaikan ikut menambah keindahan perasaan sang pendeta yang baru tiba. Dari sana beliau memandang Pulau Nusa yang terlihat indah. Lalu membangun padmasana yang notebena tempat bersthana para dewa.

Pura Goa Lawah awalnya dipelihara dan dijaga Gusti Batan Waringin atas petunjuk Ida Panataran yang notebene putra dari Ida Tulus Dewa yang menjadi pemangku di Pura Besakih. Penunjukkan itu mengingat Goa Lawah memiliki hubungan benang merah dengan Pura Besakih. Pura Goa Lawah merupakan jalan keluar Ida Bhatara Hyang Basukih dari Gunung Agung tepatnya di Goa Raja, terutama ketika berkehendak masucian di pantai.

Dalam babad Siddhimantra Tatwa disebutkan ada kisah pertemuan antara Sanghyang Basukih di kawasan Besakih dengan Danghyang Siddhimantra, salah seorang keturunan Mpu Bharadah. Sanghyang Basukih yang merupakan nagaraja, memiliki peraduan di sebuah goa yang berada di bawah Pura Goa Raja Besakih yang konon tembus ke Goa Lawah. Dalam hubungan ini acapkali terlihat secara samar sosok seekor naga ke luar dari Pura Goa Lawah, menyeberang jalan lalu menuju pantai. Orang percaya itulah Sanghyang Basukih yang berdiam di goa sedang menyucikan diri, mandi ke laut.

 

89

Goa dari Pura Goa Lawah ini, menurut krama Pesinggahan tembus di tiga tempat masing-masing di Gunung Agung (Goa Raja Besakih), Talibeng dan Tangkid Bangbang. Ketika Gunung Agung meletus tahun 1963, ada asap mengepul keluar dari muara goa lawah. Ini suatu bukti Goa Raja Besakih tembus Goa Lawah.

Jika menengok ke belakang yakni pada zaman Megalitikum, di mana pada zaman itu selain menghormati kekuatan gunung sebagai kekuatan alam yang telah menyatu dengan arwah nenek moyang yang mempunyai kekuatan gaib, juga menghormati kekuatan laut di samping kekuatan-kekuatan alam lainya, seperti batu besar, goa, campuhan, kelebutan dan lainnya. Dalam kehidupan masyarakat Bali yang kental dengan pengaruh dan sentuhan agama Hindu, pemujaan terhadap kekuatan segara-gunung memang merupakan dresta tua. Tetapi sampai saat ini masih bertahan dan terus berlanjut. Karena pada intinya, pemujaan terhadap Dewa Gunung atau Dewa Laut, sesungguhnya telah mencakup pemujaan kepada kekuatan alam yang notabene penghormatan yang amat lengkap. Atas dasar itulah, Pura yang awalnya sangat sederhana itu, kini lebih dikenal sebagai kekuatan alam yang bersatu dengan kekuatan magis arwah nenek moyang. Laut yang berada di depan pura, sekarang telah menyatu dengan segala kekuatan yang dihormati dan dipuja masyarakat guna mendapat ketentraman dan kesejahteraan hidup.

Dari kilasan di atas, jelas bahwa Pura Goa Lawah memiliki sejarah yang cukup panjang. Berawal dari pemujaan alam goa kelelawar, gunung dan laut di zaman Megalitikum, lalu dikembangkan/ditata dan kemudian dibangun pelinggih-pelinggih sthana para Dewa dan Bhatara oleh Mpu Kuturan abad X kemudian disempurnakan lagi dengan membangun Padmasana oleh Danghyang Dwijendra pada abad XIV-XV. Lengkaplah keberadaan Pura Goa Lawah, seperti yang kita lihat dan warisi sampai sekarang. Namun yang perlu dicatat, Nyegara-Gunung yang digelar di Pura Goa Lawah, mengandung makna terima kasih ke hadapan Hyang Widhi dalam manifestasi Girinatha (pelindung gunung) dan Baruna sebagai penguasa laut, atas pemberian amerta baik kepada sang Dewa Pitara-jiwa leluhur yang telah suci maupun kepada sang Yajamana, Sang Tapini dan Sang Adrue Karya. Atas dasar konsep inilah Umat Hindu memuliakan gunung dan laut sebagai sumber penghidupan. Memuliakan gunung dan laut bukan berarti umat Hindu menyembah gunung dan laut, tetapi yang dipuja  adalah Hyang Widhi dalam fungsinya sebagai pelindung gunung dan penguasa laut.

1011

Foto – foto dalam artikel ini diambil pada saat melakukan persembahyangan di Pura Goa Lawah dan pantai di depannya, dalam karya agung yang dilakukan oleh keluarga besar I Nyoman Sukariawan alias Pak Man Bung, dari Banjar Tengah Peguyangan, Denpasar Bali.

12

Ritual nyegara gunung di Pura Goa Lawah ini, dilakukan juga bersama sahabat coo Nyoman Wardhana alias Komang Kocox. hehe.

13

Bagi para sahabat yang berpelesiran di Bali, bisa mencoba suasana alam di seputaran kawasan Goa Lawah. Sekedar menyegarkan suasana dan barangkali bisa menenangkan pikiran menemukan inspirasi.

14

Semangat ya sobat menikmati hari kebahagiaan bahwasanya hidup itu indah.

15

Mari kita selalu jaga kedamaian, persahabatan dan ketertiban dunia. Salam manis dari pulau seribu pura.

16

Sampai jumpa lagi di lain waktu dan terima kasih sudah berkunjung ya.

Untuk cerita mengenai Pura Goa Lawah bisa selengkapnya di lihat di situs Bali TuaWisata Bali Utara, Gusregi.


Pelesiran& Tirta Yatra Klungkung-Karangasem-Bangli-Gianyar

Pada suatu hari Sabtu yang cerah dilakukan perjalanan spiritual bareng I Gede Bayutika, Ni Putu Premierita, dan Putu Nuniek Hutnaleontina.

Bersama dengan Mr. Surya dari Tabanan, kami melaju di siang yang cerah menuju Merta Sari, Pesinggahan Klungkung. Sejenak mencari ikan laut serta mengisi bahan bakar di tubuh, diiringi senda gurau yang sederhana.

Hidup diberikan kepada kita untuk selalu tersenyum, memaafkan, jujur, dan senantiasa berkarya.

a

Bagi teman-teman yang ingin mengetahui Pesinggahan Klungkung bisa melihat di situs Merta Sari.

b

Selepas dari Pesinggahan kami menuju Pura Besakih, bersembahyang di Pedarman masing-masing dan barengan di Penataran Agung.

c

Seusai sembahyang kami mendapat gelang spiritual secara gratis, biasalah anak-anak muda biar kekinian hehe

d

I Gede Bayutika saling memasangkan gelang dengan Ni Putu Premierita, sementara Dwipayana dengan Putu Nuniek Hutnaleontina.

e

Kami ke Pura Besakih ini untuk sekedar mengisi suasana dengan hal yang positif, berhubung ada ajakan dari Bayutika dan Rita jalan-jalan men. 

f

Bagi saudara/sahabat yang ingin mengetahui Pura Besakih lebih dalam bisa berselancar di situs Wikipedia,

Seusai Pura Besakih kami lanjut menuju Batur Kintamani, cuci paru-paru dan otak yang kadang error haha.

g

Untuk info selengkapnya mengenai Resto Apung, kawan-kawan bisa melihat di situs Spot Bali.

h

Resto Apung Bangli dan Umah Pizza Ubud menjadi pilihan kami untuk dinner dan bercengkerama ria, hari ini sungguh luar biasa.

i

Bagi teman-teman yang ingin mengetahui Omah Pizza lebih dekat bisa berselancar di situs Trip Advisor.

Puja dan puji syukur kita panjatkan kepada Tuhan YME, hidup ini indah, tenteram bagi kita yang senantiasa selalu bersyukur, begitu juga dengan kamu sobats,

Demikian sekilas kisah hari ini, terima kasih sudah berkunjung ya mamen, salam buat keluarga, hidup ini akan menjadi lebih bermakna bila kamu dan aku juga kita semua, mengerti akan makna anugerah kehidupan itu sendiri,

Salam damai dan selamat berbahagia kawan.


Yoga Malam Meditasi Jiwa

Di negara-negara Barat [Eropa dan Amerika], yoga dan meditasi setiap tahun tingkat pertumbuhannya pesat sekali. Selain karena pencarian akan makna hidup dan kedamaian bhatin, juga karena orang Barat mulai sadar akan manfaat yoga dan meditasi yang begitu baik bagi mental dan spiritual. Ada banyak sekali tehnik meditasi. Apapun tehnik yang digunakan yang terpenting adalah kedamaian dan ketenangan jiwa yang dirasakan. hehe.

a

Berikut merupakan kegiatan meditasi dan yoga bareng yang dilakukan di Peguyangan, Denpasar Bali pada malam hari. Yoga ini dilakukan bersama Dwi Ekawati, Sri Setyawati, Nuniek Hutnaleontina, Lia Kristhanti, Kadek Dwiyani, Gus Devin, Aya, Abi, Gody, Jenaki, Komang, Desi Variasi, Luh Karyawati dan istrinya Ade Kurniawan.

b

Meditasi dan yoga tidak harus dilakukan sendiri dan di tempat yang sunyi, namun bisa dilakukan bersama-sama dengan keluarga tercinta sehingga bisa menambah keharmonisan dan kesejukan jiwa kita semua.

c

Melalui pengaturan nafas, posisi duduk yang baik dan pikiran yang jernih, kita bisa merasakan dunia ini tenang dan indah.

d

Hidup ini memang penuh masalah, namun bila kita bisa memahaminya, semua tawa dan air mata akan membuat kita menjadi semakin dewasa.

e

Demikian sekilas mengenai meditasi dan yoga yang dilakukan pada hari malam. Untuk belajar meditasi sendiri di rumah, sahabat bisa melihat caranya di Meditasi dan Cara Meditasi.  Terima kasih sobat sudah berkunjung, selamat mencoba untuk rileks dan menikmati ketenangan dengan cara bermeditasi. Bila ingin sekedar mengetahui yoga atau meditasi lebih lanjut bisa menghubungi sensei utu di 085737300969.

Semangat menikmati hari semoga kita semua sehat selalu dan berada dalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa.