Jalan-jalan ke Desa Adat Tenganan Bali Aga

1

Tenganan Bali merupakan tempat fenomenal yang ada di Bali, dimana terdapat suku Bali Aga yang mendiami area ini.

2

Menurut sebagian versi catatan sejarah, kata Tenganan berasal dari kata “tengah” atau “ngatengahang” yang memiliki arti “bergerak ke daerah yang lebih dalam”. Kata tersebut berhubungan dengan pergerakan masyarakat desa dari daerah pinggir pantai ke daerah pemukiman di tengah perbukitan, yaitu Bukit Barat (Bukit Kauh) dan Bukit Timur (Bukit Kangin).

Sejarah lain mengatakan bahwa masyarakat Tenganan berasal dari Desa Peneges, Gianyar, yang dulu disebut sebagai Bedahulu. Menurut cerita rakyat, Raja Bedahulu pernah kehilangan salah satu kudanya dan orang-orang mencarinya ke Timur. Kuda tersebut ternyata ditemukan tewas oleh Ki Patih Tunjung Biru, orang kepercayaan sang raja. Atas loyalitasnya, Ki Patih tunjung Biru mendapatkan wewenang untuk mengatur daerah yang memiliki aroma dari bangkai (carrion) kuda tersebut. Ki Patih mendapatkan daerah yang cukup luas karena dia memotong bangkai kuda tersebut dan menyebarkannya sejauh yang dia bisa lakukan. Itulah asal mula dari daerah Desa Tenganan.

3

Agenda jalan-jalan ke Tenganan dilakukan bersama dengan keluarga besar Ida Bagus Muter. Ada Ibu Jero Sukreni, Gus Rai, Gus Adi, Gus Abi, Riza Permana, Ida Bagus Djelantik, Monicha Febri dan Nuniek Hutnaleontina.

4

Sejenak menikmati tuak Tenganan Karangasem di sebuah Jineng, bangunan kuno khas Bali.

5

Jalan-jalan di Tenganan ini juga dalam rangka Ibu Jero Sukreni bertemu dengan teman lamanya pada saat PKL dulu di masa sekolah.

6

Lumayan lah menikmati hari indah di tempat yang fenomenal dan klasik ini.

7891011

Keseharian kehidupan di desa ini masih diatur oleh hukum adat yang disebut awig-awig. Hukum tersebut ditulis pada abad ke-11 dan diperbaharui pada tahun 1842. Rumah adat Tenganan dibangun dari campuran batu merah, batu sungai, dan tanah. Sementara atapnya terbuat dari tumpukan daun rumbi. Rumah adat yang ada memiliki bentuk dan ukuran yang relatif sama, dengan ciri khas berupa pintu masuk yang lebarnya hanya berukuran satu orang dewasa. Ciri lain adalah bagian atas pintu terlihat menyatu dengan atap rumah.

 

1213

Penduduk desa ini memiliki tradisi unik dalam merekrut calon pemimpin desa, salah satunya melalui prosesi adat mesabar-sabatan biu (perang buah pisang). Calon prajuru desa dididik menurut adat setempat sejak kecil atau secara bertahap dan tradisi adat tersebut merupakan semacam tes psikologis bagi calon pemimpin desa. Pada tanggal yang telah ditentukan menurut sistem penanggalan setempat (sekitar Juli) akan digelar ngusaba sambah dengan tradisi unik berupa mageret pandan (perang pandan). Dalam acara tersebut, dua pasang pemuda desa akan bertarung di atas panggung dengan saling sayat menggunakan duri-duri pandan. Walaupun akan menimbulkan luka, mereka memiliki obat antiseptik dari bahan umbi-umbian yang akan diolesi pada semua luka hingga mengering dan sembuh dalam beberapa hari. Tradisi tersebut untuk melanjutkan latihan perang rutin dan menciptakan warga dengan kondisi fisik serta mental yang kuat. Penduduk Tenganan telah dikenal sebagai penganut Hindu aliran Dewa Indra, yang dipercaya sebagai dewa perang.

Masyarakat Tenganan mengajarkan dan memegang teguh konsep Tri Hita Karana (konsep dalam ajaran Hindu) dan mewujudkannya dalam kehidupan sehari-hari. Tri berarti tiga dan Hita Karana berarti penyebab kebahagiaan untuk mencapai keseimbangan dan keharmonisan. Tri Hita Karana terdiri dari Perahyangan (hubungan yang seimbang antara manusia dengan Tuhan), Pawongan (hubungan harmonis antara manusia dengan manusia lainnya), dan Palemahan (hubungan harmonis antara manusia dengan lingkungan alam sekitarnya).

14

Terima kasih sudah berkunjung sobats, jangan lupa mampir ke Tenganan ya bila sedang pelesiran di Bali bagian Timur. Sampai jumpa di kesempatan lainnya, selamat beraktivitas semoga kita semua sehat dan bahagia selalu, aamiin…..

15

Untuk mengenal Desa Tenganan lebih lanjut bisa melalui situs Wikipedia TengananAroeng BinangKompas Travel.

Advertisements

Maturan ring Pura Luhur Goa Lawah Klungkung

1

Dari ribuan jumlah pura di Bali, beberapa di antaranya berstatus Pura Khayangan Jagat. Salah satunya Pura Goa Lawah. Pura ini berdiri di wilayah pertemuan antara pantai dan perbukitan dengan sebuah goa yang dihuni beribu-ribu kelelawar. Lontar Padma Bhuwana menyebutkan Pura Goa Lawah merupakan salah satu kayangan jagat/sad kahyangan sebagai sthana Dewa Maheswara dan Sanghyang Basukih, dengan fungsi sebagai pusat nyegara-gunung. Bagaimana sejarah pura yang menempati posisi di bagian tenggara itu?

Pura Goa Lawah merupakan suatu kawasan yang suci dan indah. Di situ ada perpaduan antara laut dan gunung (lingga-yoni). Seperti namanya, di pura ini terdapat goa yang dihuni ribuan kelelawar. Gemuruh riuh suara kelelawar tiada henti, pagi, siang apalagi malam. Sekejap puluhan, ratusan bahkan ribuan ekor terbang. Sebentar lagi datang, bergantungan, bergelayutan, berdesak-desakkan di dinding-dinding karang goa. Terdengar begitu riuh bagaikan nyanyian alam yang abadi sepanjang masa. Belum lagi munculnya ular duwe (konon milik dewa), lelawah (kelelawar) putih, kuning dan brumbun, menambah suasana makin mistik di Pura yang berada di Desa Pesinggahan, Dawan, Klungkung itu.

Sementara di mulut goa terdapat beberapa palinggih stana para Dewa. Di pelatarannya, juga berdiri kokoh beberapa meru dan sthana lainnya.

 

23

Lokasinya sekitar 20 kilometer di sebelah timur kota Semarapura, Klungkung atau kurang lebih 59 kilometer dari kota Denpasar. Umat Hindu silih berganti menghaturkan bhakti dengan berbagai tujuan. Terutama ketika berlangsung piodalan/pujawali yang dilaksanakan setiap enam bulan sekali (210 hari) yakni pada Anggara Kasih Medangsia. Upacara nyejer selam 3 hari dengan penanggung jawab, pengempon pura yakni Krama Desa Pakraman Pesinggahan.

Di samping juga dilaksanakan aci penyabran yang dilakukan secara rutin pada hari-hari suci seperti Purnama, Tilem, Kajeng Kliwon, Pagerwesi, Saraswati, Siwaratri dan lainnya.

Begitu juga dengan umat Hindu dari seluruh pelosok Bali, setiap harinya ada saja yang menggelar upacara meajar-ajar atau nyegara-gunung.

 

45

Siapa yang membangun Pura Goa Lawah dan kapan dibangun?

Sulit mengungkap dan membuka secara gamblang misteri itu. Di samping karena usia bangunan pemujaan tersebut sudah tua, juga jarang ada narasumber yang benar-benar mengetahui seluk beluk keberadaannya.

Memang, ada beberapa lontar yang selintas menulis keberadaan Pura Goa Lawah. Tetapi, sangat jarang yang berani membuka secara jelas dan gamblang, siapa dan kapan salah satu pura Sad Kahyangan itu dibangun.

Jika dirunut dari kata goa lawah, secara harfiah sedikit tidaknya dapat dijelaskan bahwa goa berarti goa (lobang) dan lawah berarti kelelawar. Jadi goa lawah bisa diartikan goa kelelawar. Dalam beberapa lontar, sekilas ada yang menyimpulkan secara garis besarnya bahwa pura-pura besar yang berstatus Kahyangan jagat dan Sad Kahyangan di Bali dibangun oleh pendeta terkenal, Mpu Kuturan.

Hal itu terbukti dengan disebutnya Pura Goa Lawah dalam lontar Mpu Kuturan. Sebagaimana dihimpun Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Klungkung yang saat ini tengah mempersiapkan penerbitan buku tentang ”Pura Goa Lawah.” Dalam rekapan buku yang rencananya dipasupati bersamaan dengan pujawali di Pura Goa Lawah, 23 Mei mendatang, diceritakan, Mpu Kuturan datang ke Bali abad X yakni saat pemerintahan dipimpin Anak Bungsu adik Raja Airlangga. Airlangga sendiri memerintah di Jawa Timur (1019-1042). Ketika tiba, Mpu Kuturan menemui banyak sekte di Bali. Melihat kenyataan itu, Mpu Kuturan kemudian mengembangkan konsep Tri Murti dengan tujuan mempersatukan semua sekte tersebut.

Kedatangan Mpu Kuturan membawa perubahan yang sangat besar di wilayah ini, terutama mengajarkan masyarakat Bali tentang cara membuat pemujaan terhadap Hyang Widhi yang dikenal dengan sebutan kahyangan atau parahyangan.

Mpu Kuturan pula yang mengajarkan pembuatan Kahyangan Tiga di setiap desa pakraman di Bali serta mengukuhkan keberadaan Kahyangan Jagat yang salah satunya adalah Goa Lawah. Sebagaimana tertulis dalam lontar Usana Dewa, Mpu Kuturan juga tercatat sebagai perancang bangunan pelinggih di Pura-Pura seperti gedong dan meru serta arsitektur Bali. Begitu juga dengan berbagai jenis upacara-upakara dan pedagingan pelinggih. Hal itu termuat dalam lontar Dewa Tatwa. Mpu Kuturan telah membuat landasan prikehidupan yang sangat prinsip seperti aturan-aturan ketertiban hidup bermasyarakat yang diwarisi sampai saat ini dalam bentuk Desa Pakraman.

 

67

Di samping nama Mpu Kuturan, patut juga dicatat perjalanan Danghyang Dwijendra atau Danghyang Nirartha yang dikenal juga dengan gelar Pedanda Sakti Wawu Rawuh. Maha pandita ini berada di Bali saat Bali dipimpin Raja Dalem Waturenggong (1460-1550 Masehi), seorang raja yang sangat jaya pada masanya dan membawa kejayaan Nusa Bali. Danghyang Nirartha merupakan seorang pendeta yang melakukan tirthayatra ke seluruh pelosok Pulau Bali, termasuk juga ke pulau Lombok dan Sumbawa.

Kaitannya dengan Pura Goa Lawah. Lontar Dwijendra Tatwa menyebutkan perjalanan Danghyang Nirartha diawali dari Gelgel menuju Kusamba. Tetapi, di Kusamba Danghyang Nirartha tidak berhenti. Perjalanannya berlanjut hingga ke Goa Lawah. Saat itulah, Danghyang Nirartha bisa melihat gunung yang indah. Perjalanan dihentikan. Sang pendeta masuk ke tengah Goa. Melihat-lihat goa kelelawar yang jumlahnya ribuan. Di puncak gunung goa itu bunga-bunga bersinar, jatuh berserakan tertiup angin semilir, bagaikan ikut menambah keindahan perasaan sang pendeta yang baru tiba. Dari sana beliau memandang Pulau Nusa yang terlihat indah. Lalu membangun padmasana yang notebena tempat bersthana para dewa.

Pura Goa Lawah awalnya dipelihara dan dijaga Gusti Batan Waringin atas petunjuk Ida Panataran yang notebene putra dari Ida Tulus Dewa yang menjadi pemangku di Pura Besakih. Penunjukkan itu mengingat Goa Lawah memiliki hubungan benang merah dengan Pura Besakih. Pura Goa Lawah merupakan jalan keluar Ida Bhatara Hyang Basukih dari Gunung Agung tepatnya di Goa Raja, terutama ketika berkehendak masucian di pantai.

Dalam babad Siddhimantra Tatwa disebutkan ada kisah pertemuan antara Sanghyang Basukih di kawasan Besakih dengan Danghyang Siddhimantra, salah seorang keturunan Mpu Bharadah. Sanghyang Basukih yang merupakan nagaraja, memiliki peraduan di sebuah goa yang berada di bawah Pura Goa Raja Besakih yang konon tembus ke Goa Lawah. Dalam hubungan ini acapkali terlihat secara samar sosok seekor naga ke luar dari Pura Goa Lawah, menyeberang jalan lalu menuju pantai. Orang percaya itulah Sanghyang Basukih yang berdiam di goa sedang menyucikan diri, mandi ke laut.

 

89

Goa dari Pura Goa Lawah ini, menurut krama Pesinggahan tembus di tiga tempat masing-masing di Gunung Agung (Goa Raja Besakih), Talibeng dan Tangkid Bangbang. Ketika Gunung Agung meletus tahun 1963, ada asap mengepul keluar dari muara goa lawah. Ini suatu bukti Goa Raja Besakih tembus Goa Lawah.

Jika menengok ke belakang yakni pada zaman Megalitikum, di mana pada zaman itu selain menghormati kekuatan gunung sebagai kekuatan alam yang telah menyatu dengan arwah nenek moyang yang mempunyai kekuatan gaib, juga menghormati kekuatan laut di samping kekuatan-kekuatan alam lainya, seperti batu besar, goa, campuhan, kelebutan dan lainnya. Dalam kehidupan masyarakat Bali yang kental dengan pengaruh dan sentuhan agama Hindu, pemujaan terhadap kekuatan segara-gunung memang merupakan dresta tua. Tetapi sampai saat ini masih bertahan dan terus berlanjut. Karena pada intinya, pemujaan terhadap Dewa Gunung atau Dewa Laut, sesungguhnya telah mencakup pemujaan kepada kekuatan alam yang notabene penghormatan yang amat lengkap. Atas dasar itulah, Pura yang awalnya sangat sederhana itu, kini lebih dikenal sebagai kekuatan alam yang bersatu dengan kekuatan magis arwah nenek moyang. Laut yang berada di depan pura, sekarang telah menyatu dengan segala kekuatan yang dihormati dan dipuja masyarakat guna mendapat ketentraman dan kesejahteraan hidup.

Dari kilasan di atas, jelas bahwa Pura Goa Lawah memiliki sejarah yang cukup panjang. Berawal dari pemujaan alam goa kelelawar, gunung dan laut di zaman Megalitikum, lalu dikembangkan/ditata dan kemudian dibangun pelinggih-pelinggih sthana para Dewa dan Bhatara oleh Mpu Kuturan abad X kemudian disempurnakan lagi dengan membangun Padmasana oleh Danghyang Dwijendra pada abad XIV-XV. Lengkaplah keberadaan Pura Goa Lawah, seperti yang kita lihat dan warisi sampai sekarang. Namun yang perlu dicatat, Nyegara-Gunung yang digelar di Pura Goa Lawah, mengandung makna terima kasih ke hadapan Hyang Widhi dalam manifestasi Girinatha (pelindung gunung) dan Baruna sebagai penguasa laut, atas pemberian amerta baik kepada sang Dewa Pitara-jiwa leluhur yang telah suci maupun kepada sang Yajamana, Sang Tapini dan Sang Adrue Karya. Atas dasar konsep inilah Umat Hindu memuliakan gunung dan laut sebagai sumber penghidupan. Memuliakan gunung dan laut bukan berarti umat Hindu menyembah gunung dan laut, tetapi yang dipuja  adalah Hyang Widhi dalam fungsinya sebagai pelindung gunung dan penguasa laut.

1011

Foto – foto dalam artikel ini diambil pada saat melakukan persembahyangan di Pura Goa Lawah dan pantai di depannya, dalam karya agung yang dilakukan oleh keluarga besar I Nyoman Sukariawan alias Pak Man Bung, dari Banjar Tengah Peguyangan, Denpasar Bali.

12

Ritual nyegara gunung di Pura Goa Lawah ini, dilakukan juga bersama sahabat coo Nyoman Wardhana alias Komang Kocox. hehe.

13

Bagi para sahabat yang berpelesiran di Bali, bisa mencoba suasana alam di seputaran kawasan Goa Lawah. Sekedar menyegarkan suasana dan barangkali bisa menenangkan pikiran menemukan inspirasi.

14

Semangat ya sobat menikmati hari kebahagiaan bahwasanya hidup itu indah.

15

Mari kita selalu jaga kedamaian, persahabatan dan ketertiban dunia. Salam manis dari pulau seribu pura.

16

Sampai jumpa lagi di lain waktu dan terima kasih sudah berkunjung ya.

Untuk cerita mengenai Pura Goa Lawah bisa selengkapnya di lihat di situs Bali TuaWisata Bali Utara, Gusregi.


Pelesiran di Taman Mumbul Sangeh

13645199_1003521789747084_1001143700651410294_n

Suatu ketika di sore yang cerah diriku bersama partner in crime, Anak Agung Ngurah Wiradarma, berpelesiran ke Taman Mumbul Sangeh.

13645265_1003521669747096_5643480964260158082_n

Ya taman ini merupakan tempat fenomenal, danau yang dilingkari kawasan mistis beringin serta pura di tengah perairan.

13645324_1003521983080398_6559805097560546307_n

Dalam benak selalu terpikirkan wilayah ini merupakan salah satu tempat meditasi terbaik.

13654302_1003521919747071_376540878657109030_n

Teduhnya alam dan kicau sang burung dalam rintik sirip ikan menyadarkan kami betapa indahnya karunia Tuhan Yang Maha Kuasa.

13686604_1003522149747048_37802779232901694_n

Taman Mumbul Sangeh ini cocok digunakan sebagai area rekreasi keluarga.

13690722_1003522013080395_1345354694235645428_n

Bila para sahabat ingin menuju kesini, bisa menyusuri jalan raya sangeh dan bertanya pada penduduk sekitar. Lumayan dekat dari jalan raya utama.

13707795_1003521389747124_157757597324433682_n

Bila memungkinkan, kawan-kawan bisa bersembahyang di kawasan Pura yang ada di Mumbul Sangeh ini.

13718697_1003522216413708_9039328865299904124_n

Sangat sayang bila ke Bali melewatkan tempat adem nan asri Taman Mumbul Sangeh, jadi andai ada waktu silahkan berkunjung ya gan. hehehehe

13728970_1003522066413723_6181686836500373936_n

Untuk mengenal Taman Mumbul lebih rinci bisa melalui situs Taman Mumbul Sangeh.


Tirta Yatra Pura Luhur Batukaru

1

Pura Luhur Batukaru merupakan salah satu Pura yang terkenal di Bali yang merupakan salah satu tempat pemujaan dewa sembilan arah mata angin (Dewata Nawasanga) yaitu Dewa Mahadewa.

2

Pura ini terletak di Desa Wongaya Gede, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, Bali. Kurang lebih 46 Kilometer dari kota Denpasar, lokasi Pura Luhur Batukaru terletak di bagian barat Pulau Bali di lereng selatan Gunung Batukaru.

Selain para pemedek (orang sembahyang), banyak wisatawan yang berkunjung ke area mistis ini. Wisatawan yang ingin mengunjungi Pura Luhur Batukaru ini harus menggunakan pakaian yang sopan agar kesucian pura tetap terjaga.

3

Di suatu Sabtu hari bulan penuh ‘Purnama’ yang suci, dilakukan perjalanan Tirta Yatra ke Pura Batukaru bersama dengan Turah Agung Wiradarma dari Puri Peguyangan Denpasar bersama dengan keluarganya. Perjalan ini ditempuh dari Denpasar dengan waktu sekitar 1,5 jam.

4

Perjalanan spiritual merupakan kegiatan rutin kami, untuk tetap bersyukur kepada Sang Hyang Maha Kuasa atas berkah dan rahmat yang telah dilimpahkan kepada kita. Dan juga untuk ke depannya semoga kita semua selalu dalam lindungan Nya.

5

Seperti kata pepatah, tetaplah berbuat baik, jika beruntung kita akan bertemu dengan orang baik, namun jika tidak, maka orang baik akan menemukan kita. Seusai acara ngaturin sembah, kami beristirahat sejenak di warung Nami Buruan Tabanan, Bali.

6

Senang bisa melakukan perjalanan bareng di hari yang luar biasa ini, suksma atas asung kertha waranugraha Nya Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

7

Bagi para sahabat yang ingin mengetahui Pura Luhur Batukaru lebih rinci, bisa berkunjung ke situs BabadTemple Batukau, dan Panduan Wisata.

8

Perjalanan spiritual ini tidak berhenti di sore hari. Pada malam hari dilanjutkan dengan acara persembahyangan di Padmasana Universitas Udayana, Jalan Sudirman, Denpasar Bali.

9

Purnama yang indah menjadi lebih berarti dengan adanya hadirmu disini kekasih, hehehe, okay kawan mari lanjut kita menikmati hari. Terima kasih ya sudah berkunjung dan sampai ketemu lagi di kisah berikutnya. Semoga kita semua selalu dalam lindungan Tuhan Yang Maha Kuasa.


Pelesiran Terasering Jatiluwih Tabanan Bali

Jatiluwih memiliki pemandangan alam yang indah. Sebagian besar daerahnya merupakan daerah persawahan yang dibuat berundak (bertingkat) atau dikenal dengan sawah berteras khas Bali yang akan membuat kita semakin mengangguminya. Daerah persawahan ini berbentuk teras dengan luas sekitar 636 hektar. Sawah ini menggunakan sistem pengairan subak yaitu sistem pengairan atau irigasi tradisional Bali yang berbasis masyarakat. Subak memiliki pura yang dibangun untuk dewi kemakmuran dan dewi kesuburan. Keunikan sawah berteras inilah yang membuat Jatiluwih dinominasikan masuk daftar UNESCO World Heritage sebagai warisan budaya dunia.

 

 

23

Sesekali, kita juga akan melewati sungai, pura, atau rumah-rumah penduduk yang masih sederhana. Suasananya benar-benar menggambarkan suasana pedesaan yang damai.

 

 

4

Setelah puas menikmati panorama persawahan, kita bisa menikmati santapan di salah satu restoran sepuasnya, karena restoran ini menyediakan makanan secara buffet sehingga kita bisa mengisi perut sepuasnya. Sambil bersantap, kita dapat pemandangan persawahan dan gunung yang ada di depan mata, ini akan membuat perasaan menjadi semakin rileks. Selesai makan, jangan lupa untuk menyempatkan diri untuk berfoto disana ya, hehe.

5

Pelesiran kali ini dilakukan dengan Anak Agung Ngurah Wiradarma, Anak Agung Ngurah Widiada sekeluarga. Sungguh beribu syukur dipanjatkan kepada Tuhan Hyang Maha Esa, kita dapat berkumpul dengan sehat selamat di tempat yang indah ini.

6

Pemandangan yang hijau nan indah menyegarkan mata menenangkan pikiran.

7

Betapa tak terkiranya anugerah Tuhan di alam Bali ini, keharmonisan alam dan manusia menciptakan arti kebahagiaan yang sejati.

8

Foto di atas diriku bersama dengan A.A. Ngurah Wiradarma alias Turah Agung, teman kecil sepermainan, partner in crime, hehe.

9

Kisah ini akan selalu menjadi hari klasik untuk di masa depan, yeaaah.

10111213

Dan beginilah hari ini kita lalui dan sungguh luar biasa bisa berada di alam yang asri mempesona ini.

14

Bila sahabat ingin menenangkan pikiran dan menyejukkan jiwa, tidak ada salahnya mencoba untuk berpelesiran di Jatiluwih Tabanan Bali. Untuk mengetahui Jatiluwih lebih detail bisa mencoba berselancara di Jatiluwih dan Wisata Bali.

Terima kasih sudah berkunjung kawan, sampai jumpat di pertemuan berikutnya. Selamat menikmati hari semoga kita semua sehat dan selalu dalam lindungan Tuhan Yang Maha Kuasa. Tetep semangat buat kita, salam hangat dan sukses.


Yoga Malam Meditasi Jiwa

Di negara-negara Barat [Eropa dan Amerika], yoga dan meditasi setiap tahun tingkat pertumbuhannya pesat sekali. Selain karena pencarian akan makna hidup dan kedamaian bhatin, juga karena orang Barat mulai sadar akan manfaat yoga dan meditasi yang begitu baik bagi mental dan spiritual. Ada banyak sekali tehnik meditasi. Apapun tehnik yang digunakan yang terpenting adalah kedamaian dan ketenangan jiwa yang dirasakan. hehe.

a

Berikut merupakan kegiatan meditasi dan yoga bareng yang dilakukan di Peguyangan, Denpasar Bali pada malam hari. Yoga ini dilakukan bersama Dwi Ekawati, Sri Setyawati, Nuniek Hutnaleontina, Lia Kristhanti, Kadek Dwiyani, Gus Devin, Aya, Abi, Gody, Jenaki, Komang, Desi Variasi, Luh Karyawati dan istrinya Ade Kurniawan.

b

Meditasi dan yoga tidak harus dilakukan sendiri dan di tempat yang sunyi, namun bisa dilakukan bersama-sama dengan keluarga tercinta sehingga bisa menambah keharmonisan dan kesejukan jiwa kita semua.

c

Melalui pengaturan nafas, posisi duduk yang baik dan pikiran yang jernih, kita bisa merasakan dunia ini tenang dan indah.

d

Hidup ini memang penuh masalah, namun bila kita bisa memahaminya, semua tawa dan air mata akan membuat kita menjadi semakin dewasa.

e

Demikian sekilas mengenai meditasi dan yoga yang dilakukan pada hari malam. Untuk belajar meditasi sendiri di rumah, sahabat bisa melihat caranya di Meditasi dan Cara Meditasi.  Terima kasih sobat sudah berkunjung, selamat mencoba untuk rileks dan menikmati ketenangan dengan cara bermeditasi. Bila ingin sekedar mengetahui yoga atau meditasi lebih lanjut bisa menghubungi sensei utu di 085737300969.

Semangat menikmati hari semoga kita semua sehat selalu dan berada dalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa.