Prepare 2017

Seorang anak laki-laki masuk ke sebuah toko. Ia mengambil peti minuman & mendorong nya ke dekat pesawat telepon koin. Lalu, ia naik keatasnya sehingga ia bisa menekan tombol angka di telepon dengan leluasa. Ditekannya tujuh dijit angka. Si pemilik toko mengamati terus tingkah bocah ini & menguping percakapan teleponnya.
Bocah: “Ibu, bisakah saya mendapat pekerjaan memotong rumput di halaman Ibu?”
Ibu (di ujung telepon): “Saya sudah punya orang untuk mengerjakannya”.
Bocah: “Ibu bisa bayar saya setengah upah dari orang itu”.
Ibu: “Saya sudah sangat puas dengan hasil kerja orang itu”.
Bocah (dengan sedikit memaksa): “Saya juga akan menyapu pinggiran trotoar Ibu dan saya jamin di hari Minggu halaman rumah Ibu akan jadi yg tercantik di antara rumah-rumah yg berada di kompleks perumahan ibu”.
Ibu: “Tidak, terima kasih”.
Dengan senyum di wajah nya, bocah itu menaruh kembali gagang telepon. Si pemilik toko, yg sedari tadi mendengarkan, menghampiri bocah itu.
Pemilik Toko: “Nak, aku suka sikapmu, semangat positifmu, dan aku ingin menawarkanmu pekerjaan”.
Bocah: “Tidak. Terima kasih”.
Pemilik Toko: “Tapi tadi kedengarannya kamu sangat menginginkan pekerjaan”.
Bocah: “Oh, itu, Pak. Saya cuma mau mengecek apa kerjaan saya sudah bagus. Sayalah yang bekerja utk Ibu tadi!”
Hikmah yg dapat kita petik, sebaiknyalah kita mengevaluasi tentang apa yg kita lakukan di tahun 2016 untuk memastikan kualitas yg lebih baik di tahun 2017
Waktu itu seperti sungai, kita tak dapat menyentuh air yg sama untuk kedua kalinya, karena air yg telah mengalir akan terus berlalu & tidak akan pernah KEMBALI.
Tahun Baru 2017 tinggal beberapa hari lagi, kita akan sambut dengan tetap menjaga ketulusan, keikhlasan, kejujuran & berdamai dengan teman2 & barangkali dengan semua orang.
Selamat siap siap menyambut Tahun Baru 2017 …πŸ™πŸ™πŸ™

Copas from WA Grup BTIKK


Photo : Nusa Penida

Advertisements

Pesan Ibu Elly Risman

*Pesan Ibu Elly Risman* *Senior Psikolog UI, Konsultan Parenting Nasional*
*Inilah pesan Ibu Elly Risman untuk para Orangtua :*
Kalau Anda dititipi anak Presiden, kira-kira bagaimana mengasuh dan menjaganya ?
Beranikah Anda membentaknya sekali saja ?

Pasti enggak, kan ?
Nah, yang sekarang menitip bukan Presiden, tapi yang jauh lebih berkuasa dari Presiden, yaitu Allah.
Beranikah Anda membentak, memarahi, mencubit, menyentil, bahkan memukul ?
Jika Anda pernah melakukannya, kira-kira nanti di hari akhir, apa yang Anda jawab ketika ditanya Pemiliknya ?
*Jiwa anakmu lebih mahal* dari susu termahal yang ditumpahkannya. 

*Jaga lisanmu,* duhai orangtua. 

*Jangan pernah* engkau *memarahi* anakmu hanya gara-gara ia menumpahkan susunya atau karena ia *melakukan hal* yang menurutmu *salah.*
Anakmu tidak tahu kalau apa yang ia *lakukan adalah kesalahan.* 

*Otaknya belum mempunyai konsep* itu.
*Jaga Jiwa Anakmu.*

Lihatlah *tatapan mata* anakmu yang *tidak berdosa* itu ketika *engkau marah-marah.* 

Ia diam dan mencoba mencerna apa yang engkau katakan. 

*Apakah ia mengerti ?* 
Mungkin iya, tapi cobalah perhatikan apa yang ia lakukan. *setelah* engkau *pukul dan engkau marahi.* 

Anakmu *tetap memelukmu*, masih ingin *engkau belai.* 

Bukankah inilah tanda si anak *memaafkanmu ?*
Namun, jika engkau terus-menerus mengumbar kata-kata kasarmu kepadanya, *otak anakmu akan merekamnya* dan akhirnya, *cadangan β€˜maaf’ di otaknya hilang.* 
*Apa yang akan terjadi* selanjutnya, duhai orangtua ? 

Anakmu akan *tumbuh menjadi anak yang β€˜ganas’* dan ia pun akan *membencimu sedikit demi sedikit* hingga *tidak tahan* hidup bersamamu.
*Jiwa anak yang terluka itu akan mendendam.* 

Pernahkah engkau *saksikan* anak-anak yang *β€˜malas’ *merawat orangtuanya ketika tua ?* 

*Jangan salahkan* anak-anaknya. 

*Cobalah memahami* apa yang sudah *dilakukan* oleh orangtua itu kepada anak-anaknya ketika mereka *masih kecil.*
Orangtua.., anakmu itu *bukan kaset* yang bisa kau rekam untuk *kata-kata kasarmu.* 

Bersabarlah. 

*Jagalah kata-katamu* agar anak hanya tahu bahwa ayah ibunya adalah *contoh yang baik, yang bisa menahan amarahnya.*
Duhai orangtua, engkau pasti kesal kalau anakmu nakal. 
Tapi pernahkan engkau *berpikir* bahwa kenakalannya mungkin adalah *efek rusaknya* jiwa anakmu karena *kesalahanmu…* 

Kau *pukul & kau cubit anakmu* hanya karena melakukan *hal-hal sepele*.   

Kau hina dina anakmu hanya karena ia *tidak mau melakukan* hal-hal yang engkau *perintahkan.*
Cobalah duduk dan *merenungi* apa saja *yang telah engkau lakukan* kepada anakmu. 

Apakah engkau lebih sayang pada susu paling mahal yang tertumpah? 

Anakmu pasti *menyadari* dan tahu ketika kemarahan itu *selalu hadir di depan matanya.* 

*Jiwanya* pun menjadi memerah bagai bara api. 

*Apa yang mungkin terjadi ketika jiwa anak sudah terusik ?*
Anak *tidak hormat* pada orangtua. 

Anak *menjadi musuh* orangtua. 

Anak *menjadi sumber kekesalan* orangtua. 

Anak tidak bermimpi hidup bersama dengan orangtua. 

*Hal-hal inikah yang engkau inginkan, duhai orangtua ?* 
*Ingatlah, jiwa anakmu lebih mahal* dari susu termahal yang ditumpahkannya. 

*Jaga lisan* dan *perlakukanmu* kepada anakmu.
πŸ‘ΆπŸΌπŸ‘¦πŸΌπŸ‘§πŸ»πŸ‘ΆπŸΌπŸ‘¦πŸΌπŸ‘§πŸ»πŸ‘ΆπŸΌπŸ‘¦πŸΌπŸ‘§πŸ» 
Untuk saya dan bapak ibu semua πŸ™πŸ˜Š
*_”Jika Setuju Share Ke Saudara/ Teman2 Kita Yg Lain u Selamatkan Anak Bangsa u mJadi Pribadi Yg b’Mental Bijak u Mbangun Agama & NKRI…?!?”_*


Foto : memory bersama Turah Bagus, Turah Agung, dan Turah Wiradarma di Puri Peguyangan