Penglukatan Pekarangan Rumah

Mungkin kita pernah mendengar kata penglukatan, ya itu istilah di Bali yang artinya pembersihan khususnya secara gaib / magis. Berdasarkan informasi salah seorang teman, Gung Rai Yono, berikut merupakan tahapan untuk melakukan pembersihan pekarangan rumah, yang merupakan suatu kepercayaan yang diyakini oleh masyarakat Bali.

  1. Ngeseng di Geni, artinya memohon peleburan hal-hal kotor kepada Geni / Api / Sang Hyang Brahma. Sarananya yaitu canang dan segehan yang dihaturkan di bungut paon / lorong pembakaran kayu pada dapur tradisional. Pemohon nunas / berdoa kepada Dewa Brahma dan mengambil abu aon / abu pembakaran kayu dsb untuk pengelukatan karang. Ambil menggunakan tangan kiri sebanyak 11 genggam. Nunas / mohon izin di Bhatara Hyang Guru di sanggah untuk izin melukat ring Brahma. Taburkan seluruh abu aon di pekarangan rumah. Selang sehari setelahnya dilakukan penglukatan di Hyang Baruna, Siwa, dan iswara.
  2. Melukat di Hyang Baruna, Siwa, dan Iswara, melalui sarana air laut. Nunas ring Hyang Guru di sanggah izin akan melakukan pengelukatan. Bawa canang dan segehan putih kuning ke laut, celupkan jerigen sebanyak 3 kali dimana kali yg terakhir diisi penuh. Setelah itu taburkan air laut di pekarangan rumah. Selang sehari setelahnya dilakukan penglukatan di Hyang Ganapati
  3. Melukat di Ganapati dengan sarana air panas dicampur daun intaran yang sudah ditumbuk, ucapkan mantera ‘om ganesha ganapati sebanyak 21x’, ucapkan permohonan dalam bahasa apapun (Tuhan bisa berjuta-juta bahasa), dimana permohonan kita yaitu melebur hal negatif dan membawa hal positif masuk ke rumah. Selang sehari setelahnya dilakukan penglukatan menggunakan tirta dari sumber mata air / air klebusan.
  4. Melukat menggunakan air klebusan, dari sumber mata air suci. Gunakan 3 bunga sebagai sarana yaitu cempaka putih, cempaka kuning, dan sandat. Haturkan pejati di Hyang Guru, ucapkan doa kepada kemulan 3 sakti, Brahma Wisnu Iswara, leluhur dan Hyang Kawitan. Mohon restu juga kepada Penunggun Karang dengan sarana canang dan segehan putih kuning. Taburkan tirta klebusan di seluruh pekarangan rumah. Selang sehari setelahnya dilakukan penglukatan menggunakan tirta pasupati.
  5. Melukat menggunakan tirta Siwa, dari Sang Hyang Pasupati, bisa memohon menggunakan canang di orang pintar / spiritual, bisa juga mencari tirta tersebut di pura-pura Siwa pingit/tersembunyi yang ada di Bali.
  6. Pengecekan secara spiritual oleh orang pintar, akan dilihat secara gaib hal apa yang berpengaruh baik positif / negatif yang ada disekeliling rumah.
  7. Tahapan paling akhir biasanya nunas tamba dan permohonan atau mesesangi di Pura Dalem suatu wilayah. Biasanya kotoran gaib yang ada di rumah bisa menyebabkan sakit, kurang nyaman, dan lain sebagainya. Langkah nomor 6 & 7 ini merupakan langkah akhir dimana bila sudah melakukan hingga langkah nomor 5 kita masih merasa belum nyaman dan betah di pekarangan rumah. Ini hanya sekedar kepercayaan yang beredar di masyarakat Bali. Masih banyak jenis dan tahapan-tahapan penglukatan yang dipercayai dan menjadi mitos yang dilakoni oleh masyarakat hingga saat ini. Tidak ada salahnya mencoba bagi para sahabat yang sekedar ingin mendalami spiritual hehehe. Terima kasih sudah berkunjung, selamat menikmati hari sobat semoga kita semua selalu dalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa.
Advertisements


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s